{"id":10600,"date":"2024-06-10T09:09:25","date_gmt":"2024-06-10T01:09:25","guid":{"rendered":"https:\/\/o2genes.com\/?page_id=10600"},"modified":"2024-06-27T18:00:57","modified_gmt":"2024-06-27T10:00:57","slug":"frequently-asked-questions","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/o2genes.com\/id\/pertanyaan-yang-sering-diajukan\/","title":{"rendered":"Pertanyaan yang Sering Diajukan"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-page\" data-elementor-id=\"10600\" class=\"elementor elementor-10600\" data-elementor-post-type=\"page\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-1f3e7501 elementor-section-height-min-height elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-items-middle\" data-id=\"1f3e7501\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\" data-settings=\"{&quot;background_background&quot;:&quot;classic&quot;}\">\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-background-overlay\"><\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-no\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-432dda76\" data-id=\"432dda76\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-1c53bbf0 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"1c53bbf0\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t\t<h1 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">Pertanyaan yang Sering Diajukan<\/h1>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-1c43e02d elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"1c43e02d\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-445aabca\" data-id=\"445aabca\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-4a4cab30 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"4a4cab30\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-51322e51\" data-id=\"51322e51\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-39a50d02 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"39a50d02\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t\t<h3 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">1. Apakah Ruang Oksigen Hiperbarik dengan tekanan di bawah 1,4ATA dapat digunakan? <\/h3>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-224d9f1e elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"224d9f1e\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut pedoman dari Undersea and Hyperbaric Medical Society, pengaturan klinis Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) membutuhkan tekanan minimal 1,4 ATA, sebagaimana dinyatakan dalam Edisi ke-14 Indikasi Terapi Oksigen Hiperbarik 2019.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang oksigen hiperbarik yang beroperasi di bawah 1,4 ATA tercatat hanya menawarkan efek plasebo yang terasa nyaman. Penelitian oleh Niza dkk. menunjukkan bahwa HBOT pada 1,4 ATA meningkatkan aliran darah di pembuluh darah kecil jaringan perifer dengan menstimulasi sistem saraf parasimpatis karena peningkatan kadar oksigen. Dengan oksigen yang hampir murni yang diberikan pada 1,45 atmosfer, difusi oksigen meluas sekitar 75 mikrometer dari kapiler ke dalam jaringan, menghasilkan tekanan oksigen sekitar 950 mmHg di arteri kecil. Tingkat tekanan ini memastikan difusi oksigen yang memadai dari plasma darah ke semua sel di seluruh tubuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, ruang oksigen hiperbarik yang beroperasi di bawah 1,4 ATA tidak dapat memberikan manfaat terapi oksigen hiperbarik yang sesungguhnya dalam meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan tingkat energi, mendukung pemulihan yang lebih cepat, mengurangi peradangan, meningkatkan fungsi kognitif, dan meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan kulit.<\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-50a7124 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"50a7124\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-7d5eca5\" data-id=\"7d5eca5\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e3e0299 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"e3e0299\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t\t<h3 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">2. Mengapa Ruang Oksigen Hiperbarik Cangkang Keras belum tentu lebih baik daripada Ruang Oksigen Hiperbarik Cangkang Lunak?<\/h3>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-9f04140 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"9f04140\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><b>1. Tekanan:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Berhati-hatilah dalam menilai keefektifan ruang oksigen cangkang keras hanya berdasarkan penampilannya. Sangat penting untuk mempertimbangkan tekanan atmosfer ruangan. Meskipun desainnya kokoh, beberapa ruang cangkang keras dapat beroperasi hanya pada 1,35 ATA, sehingga tidak efektif untuk tujuan terapeutik. Menurut pedoman dari Undersea and Hyperbaric Medical Society, kemanjuran klinis membutuhkan tekanan minimal 1,4 ATA, sebagaimana diuraikan dalam Edisi ke-14 Indikasi Terapi Oksigen Hiperbarik 2019. Ruang yang beroperasi di bawah ambang batas ini hanya dapat menginduksi efek plasebo yang baik. Inilah sebabnya mengapa kepompong O2genes mempertahankan tekanan minimum 1,4 ATA. Hiperoksia adalah faktor penyebab di balik efek menguntungkan yang dicapai melalui perawatan ini.<\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Efek HBOT pada 1,4 ATA<\/strong> &#8211; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan Niza dkk. mengungkapkan efek Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) pada 1,4 ATA, yang mengindikasikan adanya peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah kecil di jaringan perifer. Peningkatan ini disebabkan oleh aktivasi sistem saraf parasimpatis karena peningkatan kadar oksigen. Selain itu, ketika oksigen yang hampir murni diberikan di lingkungan dengan tekanan 1,45 atmosfer, difusi oksigen meluas sekitar 75 mikrometer dari kapiler ke dalam jaringan. Hasilnya, hal ini membentuk tekanan oksigen sekitar 950 mmHg di arteri kecil, memastikan pengiriman oksigen yang cukup ke seluruh jaringan tubuh melalui difusi dari plasma darah ke sel.<\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Efek HBOT pada 1,5ATA<\/strong> - Penelitian yang dilakukan oleh Fratantonio dkk. menunjukkan efek Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) pada 1,5 ATA (atmosfer absolut), menunjukkan peningkatan kadar oksigen jaringan yang kemudian memicu respons seluler. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar oksigen pada individu yang sehat menghasilkan peningkatan protein spesifik yang bertanggung jawab atas respons seluler terhadap perubahan oksigen. Selain itu, terdapat peningkatan glutathione dan MMP9, sebuah enzim, yang menunjukkan bahwa perawatan ini menyebabkan stres oksidatif. Temuan ini menggarisbawahi bahwa peningkatan kadar oksigen pada 1,5 ATA menimbulkan respons seluler yang diatur oleh protein tertentu.<\/span><\/p><p><strong>Peningkatan stres oksidatif membantu tubuh untuk:<\/strong><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>- Memperkuat Respon Kekebalan Tubuh:<\/strong> Stres oksidatif dapat membantu tubuh melawan infeksi. Sel-sel kekebalan tubuh menggunakan spesies oksigen reaktif (ROS) untuk membunuh patogen yang menyerang.<\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>- Memperkuat Pertahanan Sel:<\/strong> Tingkat stres oksidatif yang rendah dapat bertindak sebagai sinyal bagi sel untuk beradaptasi dan memperkuat pertahanannya, suatu proses yang dikenal sebagai hormesis.<\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>- Penyembuhan Luka:<\/strong> Stres oksidatif yang terkendali dapat meningkatkan perbaikan dan penyembuhan jaringan dengan merangsang proliferasi dan migrasi sel.<\/span><\/p><p>\u00a0<\/p><p><b style=\"font-style: inherit;\">2. Konsentrasi Oksigen:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Periksa apakah ruang cangkang keras Anda benar-benar merupakan ruang oksigen. Beberapa ruang hiperbarik hanya mengeluarkan udara sekitar, yang terdiri dari nitrogen dan gas lainnya, bukan oksigen murni. O2genes Hyperbaric Oxygen Cocoon memastikan kemanjuran yang tinggi dan dapat mencapai oksigen pekat 96%.<\/span><\/p><p>\u00a0<\/p><p><b style=\"font-style: inherit;\">3. Keamanan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Ada banyak ruang cangkang keras di pasaran, tetapi seberapa amankah sebenarnya? <\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2016\/03\/16\/hyperbaric-chamber-explosion-considered-a-consumer-rights-violation.html\">Pernahkah Anda mendengar tentang ledakan ruang oksigen hiperbarik di sebuah rumah sakit di Jakarta?\u00a0<\/a><\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Hal-hal penting yang harus diperiksa:<\/strong> Bahan Kamar. Banyak ruang oksigen hiperbarik dirakit di lokasi, yang berarti bagian-bagian logam kecil disatukan untuk membentuk ruang tersebut. Hal ini menyebabkan kemungkinan adanya celah di antara ruang jika potongan-potongan tersebut tidak dilas dengan erat. Dengan adanya celah di dalam ruang, kemungkinan kebocoran udara dan tekanan menjadi tinggi, dan dapat menyebabkan efek samping seperti trauma telinga baro atau cedera.<\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti kebanyakan ruang oksigen hiperbarik di pasaran, yang terbuat dari paduan aluminium, ruang cangkang keras O2genes dibuat dari sepotong baja tahan karat. Baja tahan karat lebih kuat dan mampu menahan tekanan tinggi. Selain itu, tahan terhadap karat dan korosi. Karena ruang terbuat dari satu bagian baja tahan karat dan bukan beberapa bagian yang dilas, maka secara signifikan lebih kuat, dan risiko kebocoran tekanan udara dapat dihilangkan.<\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-3a80137 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"3a80137\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-6de4eb2\" data-id=\"6de4eb2\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-dccc8d1 elementor-widget elementor-widget-heading\" data-id=\"dccc8d1\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"heading.default\">\n\t\t\t\t\t<h3 class=\"elementor-heading-title elementor-size-default\">3. Apakah 1,4 ATA lebih baik daripada 1,5 ATA?<\/h3>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-6d5df7b elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"6d5df7b\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, pada 1.5ATA, terdapat lebih banyak hiperoksigenasi dibandingkan dengan 1.4ATA.<\/span><\/p><p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kita bisa mengharapkan penetrasi yang lebih baik dengan oksigen dan nutrisi yang menjangkau lebih dalam ke jaringan.<\/span><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Frequently Asked Questions 1. Do Hyperbaric Oxygen Chambers with pressures below 1.4ATA work? According to the guidelines from the Undersea and Hyperbaric Medical Society, the clinical setting of Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) requires a pressure of at least 1.4 ATA, as stated in the 14th Edition of the 2019 Hyperbaric Oxygen Therapy Indications.&nbsp; Hyperbaric oxygen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"site-sidebar-layout":"no-sidebar","site-content-layout":"page-builder","ast-site-content-layout":"full-width-container","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"disabled","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"class_list":["post-10600","page","type-page","status-publish","hentry"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/10600","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10600"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/10600\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/o2genes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}